Alam

Alam
Pemandangan kesejukan alam pegunungan Todanan di pagi hari

Minggu, 26 Juni 2016

di todanan banyak didapati sumber air bersih



DI TODANAN BANYAK DIDAPATI SUMBER AIR BERSIH 

Todanan.  Air merupakan sumber penghidupan yang diperlukan oleh setiap makhluk yang ada di muka bumi.  Apalagi air bersih senantiasa dibutuhkan oleh setiap manusia dalam aktivitas kesehariannya. Bisa dibayangkan bagaimana jadinya jika di muka bumi ini tidak ada sumber yang menghasilkan air bersih. Air hujan saja yang turun dari langit tidaklah cukup. Oleh karena itu perlu dicari sumber yang menghasilkan air bersih untuk menopang kebutuhan manusia dan makhluk lainnya.  

Sumber Air Bersih di Era sebelum s/d 90-an
Daerah Todanan dikenal sebagai daerah pegunungan yang memiliki sedikit air. Namun pada masa musim penghujan, daerah ini tidak mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Wajar karena air hujan menjadi sebab hidupnya sumber atau mata air yang terdapat di Todanan. Sumber air itu terdapat di pinggiran desa bagian utara atau selatan, dari arah barat ke timur atau sebaliknya. Itu terjadi pada era sebelum sampai tahun 90-an.
Jika musim kemarau tiba, maka daerah ini mengalami kekeringan terutama dirasakan pada bulan agustus/september. Maka mulai tahun 1990-an pemerintah kabupaten membangun Proyek Daerah Air Minum (PDAM) di desa Kajengan kec. Todanan.

Di sela-sela itu lambat laun salah satu penduduk memiliki ide untuk mencari sumber air, misalnya dengan cara mengebor tenaga manusia dan menggali sumur. Namun masih gagal, apa itu bor patah atau sumur mengandung gas beracun. Akhirnya masa berikutnya penggalian sumur oleh penduduk membawa hasil yang diprakarsai oleh Bapak Dasuki seorang PNS Kemenag (dulu: Depag). Sumur temuannya dinamai sendang Kobo yang berada di persawahan sebelah utara Todanan sebelah jalan / jalur menuju Juana Pati. Tidak tanggung-tanggung menggali dua sumber dan berhasil.
Kemudian pada periode selanjutnya keinginan penduduk untuk memiliki sumur makin lama berkembang. Tidak menggali di pinggiran desa, namun di dekat rumah penduduk. Sebutlah, mas Krimpying juga berhasil memiliki sumur air bersih galian dengan kekuatan sumber yang lebih kuat / deras dari temuan sebelumnya. Sehingga musim kemarau tidak menglami kesulitan air. Tidak hanya di manfaatkan sendiri, tetapi juga untuk kepentingan orang lain atau melalui jasa menyalur. Penduduk meyakini bahwa Todanan itu pegunungan dan pasti terdapat banyak sumber air atau mata air dalam di bawah lapisan batu kapur. Setelah itu bermunculan sumur galian tempat pak Sholikun, pak Darmaji, pak Broto, pak Harso, pak Watt, pak Lasono, pak Tasmin, mbah Ngadi, masjid Al-Muhajirin, pak Giyanto, mbah Moersjid/mas Yon, dan mas Jiman serta lek Utomo sekitar tahun 2010-an. Kedalaman sumur antara 20-30-an meter.
Di era tahun 2015-an semakin banyak ditemukan sumber air bersih. Cara mendapatkan mata air tidak menggali sumbernya namun sudah menggunakan teknik pengeboran bertenaga mesin diesel. Di beberapa tempat di Todanan yang berhasil adalah tempat mbak Jumirah Tarji, mbak Tin Santoso, Mas Sulis, Pak Suyatno (Kades) dan pak Bashirin. Kedalaman mencapai 40-60-an meter dan dengan kualitas sumber air jauh lebih permanen dari pada sumur galian. Sumber air yang diusahakan warga tersebut rata-rata dibisniskan dengan membangun tower tampungan air.

 
Foto sumur galian warga yang di atasnya dibangun tower air (armedha_img). 

 
Foto sumur bor milik warga yang di atasnya dibangun tower tampungan air (armedha_img).

Pengaruhnya terhadap PDAM Todanan
Dengan ditemukannya banyak sumber air bersih di Todanan seolah menjadi kebahagiaan tersendiri dan menghapus anggapan bahwa Todanan sulit air jika kemarau. Tetapi justru pembuktian bahwa di Todanan yang berbatuan kapur terdapat banyak sumber air benar-benar ada, bukan sekedar katanya para peneliti dari UGM Yogyakarta atau UNDIP dan UNES dari Semarang. Namun seberapa pengaruhnya terhadap PDAM yang sudah ada sebelumnya. Apakah terjadi penurunan jumlah pelanggan? Memang pelanggan PDAM sampai saat ini mencapai 500 orang dari Kejengan, Dringo, Cokrowati dan juga Todanan. Dari jumlah yang keluar sekitar 30 orang yang mengambil air dari PDAM warga. Namun penurunan itu diisi oleh pelanggan baru dari daerah Cokrowati. Sehingga sama sekali tidak ada pengaruhnya demikian ungkap pak Kumono salah satu karyawan PDAM Todanan. PDAM Todanan sendiri terdiri 3 pegawai dengan seorang Kepala bernama pak Didik, dan 2 karyawan saya sendiri dan pak Riyadi, tegasnya.(25/06/2016).