DI TODANAN BANYAK DIDAPATI SUMBER AIR
BERSIH
Todanan. Air merupakan sumber penghidupan yang
diperlukan oleh setiap makhluk yang ada di muka bumi. Apalagi air bersih senantiasa dibutuhkan oleh
setiap manusia dalam aktivitas kesehariannya. Bisa dibayangkan bagaimana
jadinya jika di muka bumi ini tidak ada sumber yang menghasilkan air bersih.
Air hujan saja yang turun dari langit tidaklah cukup. Oleh karena itu perlu
dicari sumber yang menghasilkan air bersih untuk menopang kebutuhan manusia dan
makhluk lainnya.
Sumber Air Bersih di Era sebelum s/d 90-an
Daerah Todanan dikenal sebagai daerah pegunungan yang
memiliki sedikit air. Namun pada masa musim penghujan, daerah ini tidak
mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Wajar karena air hujan menjadi
sebab hidupnya sumber atau mata air yang terdapat di Todanan. Sumber air itu
terdapat di pinggiran desa bagian utara atau selatan, dari arah barat ke timur
atau sebaliknya. Itu terjadi pada era sebelum sampai tahun 90-an.
Jika musim kemarau tiba, maka daerah ini
mengalami kekeringan terutama dirasakan pada bulan agustus/september. Maka
mulai tahun 1990-an pemerintah kabupaten membangun Proyek Daerah Air Minum
(PDAM) di desa Kajengan kec. Todanan.
Di sela-sela itu lambat laun salah satu penduduk
memiliki ide untuk mencari sumber air, misalnya dengan cara mengebor tenaga manusia dan menggali
sumur. Namun masih gagal, apa itu bor patah atau sumur mengandung gas beracun. Akhirnya masa berikutnya penggalian sumur oleh
penduduk membawa hasil yang diprakarsai oleh Bapak Dasuki seorang PNS Kemenag
(dulu: Depag). Sumur temuannya dinamai sendang Kobo yang berada di persawahan sebelah
utara Todanan sebelah jalan / jalur menuju Juana Pati. Tidak tanggung-tanggung
menggali dua sumber dan berhasil.
Kemudian pada periode selanjutnya keinginan
penduduk untuk memiliki sumur makin lama berkembang. Tidak menggali di pinggiran
desa, namun di dekat rumah penduduk. Sebutlah, mas Krimpying juga berhasil memiliki sumur air bersih galian dengan kekuatan sumber yang
lebih kuat / deras dari temuan sebelumnya. Sehingga musim kemarau tidak
menglami kesulitan air. Tidak hanya di manfaatkan sendiri, tetapi juga untuk
kepentingan orang lain atau melalui jasa menyalur. Penduduk meyakini bahwa
Todanan itu pegunungan dan pasti terdapat banyak sumber air atau mata air dalam
di bawah lapisan batu kapur. Setelah itu bermunculan sumur galian tempat pak Sholikun, pak Darmaji, pak Broto, pak Harso, pak Watt, pak Lasono, pak Tasmin, mbah
Ngadi, masjid Al-Muhajirin, pak Giyanto, mbah Moersjid/mas Yon, dan mas Jiman serta
lek Utomo sekitar tahun 2010-an. Kedalaman
sumur antara 20-30-an meter.
Di era tahun 2015-an semakin banyak ditemukan
sumber air bersih. Cara mendapatkan mata air tidak menggali sumbernya namun
sudah menggunakan teknik pengeboran bertenaga mesin diesel. Di beberapa tempat di
Todanan yang berhasil adalah tempat mbak Jumirah Tarji, mbak Tin Santoso, Mas
Sulis, Pak Suyatno (Kades) dan pak Bashirin. Kedalaman mencapai 40-60-an meter
dan dengan kualitas sumber air jauh lebih permanen dari pada sumur galian. Sumber
air yang diusahakan warga tersebut rata-rata dibisniskan dengan membangun tower
tampungan air.
Foto sumur galian warga yang di atasnya dibangun tower
air (armedha_img).
Foto sumur bor milik warga yang di atasnya
dibangun tower tampungan air (armedha_img).
Pengaruhnya terhadap PDAM Todanan
Dengan ditemukannya banyak sumber air bersih di
Todanan seolah menjadi kebahagiaan tersendiri dan menghapus anggapan bahwa
Todanan sulit air jika kemarau. Tetapi justru pembuktian bahwa di Todanan yang
berbatuan kapur terdapat banyak sumber air benar-benar ada, bukan sekedar
katanya para peneliti dari UGM Yogyakarta atau UNDIP dan UNES dari Semarang.
Namun seberapa pengaruhnya terhadap PDAM yang sudah ada sebelumnya. Apakah
terjadi penurunan jumlah pelanggan? Memang pelanggan PDAM sampai saat ini
mencapai 500 orang dari Kejengan, Dringo, Cokrowati dan juga Todanan. Dari jumlah yang keluar
sekitar 30 orang yang mengambil air dari PDAM warga. Namun penurunan itu diisi
oleh pelanggan baru dari daerah Cokrowati. Sehingga sama sekali tidak ada
pengaruhnya demikian ungkap pak Kumono salah satu karyawan PDAM Todanan. PDAM
Todanan sendiri terdiri 3 pegawai dengan seorang Kepala bernama pak Didik, dan 2
karyawan saya sendiri dan pak Riyadi, tegasnya.(25/06/2016).